Selasa, 20 Maret 2012

KARYA ILMIAH


1. Definisi Karya ilmiah

Karya Ilmiah adalah karya tulis yang disusun oleh seorang penulis berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukannya. Karya ilmiah juga biasa disebut karangan ilmiah. Menurut Brotowidjoyo karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodolog penulisan yang baik dan benar.
Adapun jenis karangan ilmiah yaitu:
1. Makalah: karya tulis yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif (menurut bahasa, makalah berasal dari bahasa Arab yang berarti karangan).
2. Kertas kerja: makalah yang memiliki tingkat analisis lebih serius, biasanya disajikan dalam lokakarya.
3. Skripsi: karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasar pendapat orang lain
4. Tesis: karya tulis ilmiah yang sifatnya lebih mendalam daripada skripsi.
5. Disertasi: karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasar data dan fakta yang sahih dengan analisi yang terinci.
Menurut http://www.geocities.com/liacybercampus/pedomanskripsi, karya ilmiah ada dua jenis, yaitu :
a. Karangan ilmiah, yaitu salah satu jenis karangan yang berisi serangkaian hasil pemikiran yang
diperoleh sesuai dengan sifat keilmuannya.
b. Laporan ilmiah, yaitu suatu wahana penyampaian berita, informasi, pengetahuan,atau gagasan dari
seseorang kepada orang lain. Laporan ini dapat berbentuk lisan dan dapat berbentuk tulisan. Laporan yang disampaikan secara tertulis merupakan suatu karangan.. Jika laporan ini berisi serangkaian hasil pemikiran yang diperoleh dari hasil penelitian, pengamatan ataupun peninjauan, maka laporan ini termasuk jenis karangan ilmiah. Dengan kata lain, laporan ilmiah ialah sejenis karangan ilmiah yang mengupas masalah ilmu pengetahuan dan telnologi yang sengaja disusun untuk disampaikan kepada orang-orang tertentu dan dalam kesempatan tertentu.
MACAM KARYA TULIS ILMIAH
Sesuai dengan cirinya yang tertulis tadi, maka karya tulis ilmiah dapat berwujud dalam bentuk makalah (dalam seminar atau simposium), artikel, laporan praktikum, skripsi, tesis, dan disertasi, yang pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan acuan (referensi) bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya.

2. Ciri-ciri Karya Ilmiah
Ciri-ciri sebuah karya ilmiah dapat dikaji dari minimal empat aspek, yaitu struktur sajian, komponen dan substansi, sikap penulis, serta penggunaan bahasa. Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri dari bagian awal (pendahuluan), bagian inti (pokok pembahasan), dan bagian penutup. Bagian awal merupakan pengantar ke bagian inti, sedangkan inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang dapat terdiri dari beberapa bab atau subtopik. Bagian penutup merupakan simpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut gagasan tersebut.
Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya abstrak. Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa impersonal, dengan banyak menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata ganti orang pertama atau kedua. Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata/istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.

3. SIKAP ILMIAH
Istilah sikap dalam bahasa Inggris disebut “Attitude” sedangkan istilah attitude sendiri berasal dari bahasa latin yakni “Aptus” yang berarti keadaan siap secara mental yang bersifat untuk melakukan kegiatan. Triandis mendefenisikan sikap sebagai : “ An  attitude ia an idea charged with emotion  which predis poses a class of actions to aparcitular class of social situation” .
Rumusan di atas diartikan bahwa sikap mengandung tiga komponen yaitu  komponen kognitif, komponen afektif dan komponen tingkah laku. Sikap selalu berkenaan dengan suatu obyek dan sikap terhadap obyek ini disertai dengan perasaan positif atau negatif. Secara umum dapat disimpulkan bahwa sikap adalah suatu kesiapan yang senantiasa cenderung untuk berprilaku atau bereaksi dengan cara tertentu bilamana diperhadapkan dengan suatu masalah atau obyek.
Menurut Baharuddin (1982:34) mengemukakan bahwa :”Sikap ilmiah pada dasarnya adalah sikap yang diperlihatkan oleh para Ilmuwan saat mereka melakukan kegiatan sebagai seorang ilmuwan. Dengan perkataan lain  kecendrungan individu  untuk bertindak atau berprilaku  dalam memecahkan suatu masalah secara sistematis melalui langkah-langkah ilmiah. Beberapa sikap ilmiah dikemukakan oleh Mukayat Brotowidjoyo (1985 :31-34) yang biasa dilakukan para ahli dalam menyelesaikan masalah berdasarkan metode ilmiah, antara ;ain :
Sikap ingin tahu : apabila menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya,maka ia beruasaha mengetahuinya; senang mengajukan pertanyaan tentang obyek dan peristiea; kebiasaan menggunakan alat indera  sebanyak mungkin untuk menyelidiki suatu masalah; memperlihatkan gairah dan kesungguhan dalam menyelesaikan eksprimen.
Sikap kritis :  Tidak langsung begitu saja menerima kesimpulan tanpa ada bukti yang kuat, kebiasaan menggunakan bukti – bukti pada waktu menarik kesimpulan;  Tidak merasa paling benar yang harus diikuti oleh orang lain; bersedia mengubah pendapatnya berdasarkan bukti-bukti yang kuat.
Sikap obyektif : Melihat sesuatu sebagaimana adanya obyek itu, menjauhkan bias pribadi dan tidak dikuasai oleh pikirannya sendiri. Dengan kata lain mereka dapat mengatakan secara jujur dan menjauhkan kepentingan dirinya sebagai subjek.
Sikap ingin menemukan :  Selalu memberikan saran-saran untuk eksprimen baru; kebiasaan menggunakan eksprimen-eksprimen dengan cara yang baik dan konstruktif; selalu memberikan konsultasi yang baru dari pengamatan yang dilakukannya.
Sikap menghargai karya orang lain, Tidak akan mengakui dan memandang karya orang lain sebagai karyanya, menerima kebenaran ilmiah walaupun ditemukan oleh orang atau bangsa lain.
Sikap tekun : Tidak bosan mengadakan penyelidikan, bersedia mengulangi eksprimen yang hasilnya meragukan’ tidak akan berhenti melakukan kegiatan –kegiatan apabila belum selesai; terhadap hal-hal yang ingin diketahuinya ia berusaha bekerja dengan teliti.
Sikap terbuka : Bersedia mendengarkan argumen orang lain sekalipun berbeda dengan apa yang diketahuinya.buka menerima kritikan dan respon negatif terhadap pendapatnya.
Lebih rinci Diederich mengidentifikasikan 20 komponen sikap ilmiah sebagai berikut :
Selalu meragukan sesuatu.
Percaya akan kemungkinan penyelesaian masalah.
Selalu menginginkan adanya verifikasi eksprimental.
T e k u n.
Suka pada sesuatu yang baru.
Mudah mengubah pendapat atau opini.
Loyal etrhadap kebenaran.
Objektif
Enggan mempercayai takhyul.
Menyukai penjelasan ilmiah.
Selalu berusaha melengkapi penegathuan yang dimilikinya.
Tidak tergesa-gesa mengambil keputusan.
Dapat membedakan antara hipotesis dan solusi.
Menyadari perlunya asumsi.
Pendapatnya bersifat fundamental.
Menghargai struktur teoritis
Menghargai kuantifikasi
Dapat menerima penegrtian kebolehjadian dan,
Dapat menerima pengertian generalisasi

4. Persiapan dalam menulis PI

Pertama Kumpulkan Informasi 
Membaca  surat kabar, majalah ataupun buletin pendidikan utamanya, hendaknya menjadi kebutuhan bagi guru agar tidak ketinggalan informasi. Bagi guru calon penulis, membaca tidak sekedar mendapatkan informasi kemudian dibiarkan hilang begitu saja tanpa kesan. Akan tetapi informasi baru hendaknya diinventarisir dengan cara dicatat ataupun dikumpulkan guntingan-guntingan informasi surat kabar itu lengkap dengan tanggal pemuatannya. Perlakuan ini dimaksudkan sebagai proses pengumpulan dokumen informasi yang dapat digunakan sebagai modal pencarian tema dalam penulisan karya ilmiah populer Anda.

Pengumpulan informasi dapat diperoleh dari mana pun tergatung dengan media apa penulis itu bergelut. Koran, majalah, buletin, radio, TV, internet atau wawancara langsung dengan nara sumber adalah sumber informasi yang tak habis-habisnya digali. Informasi tentang pendidikan memang silih berganti datang bertubi setiap hari. Informasi itu terus berlari seiring dengan pergantian hari.

Bagi calon penulis dan penulis yang sudah terbiasa menulis, informasi baru merupakan  bahan tulisan yang sangat ditunggu-tunggu. Oleh karena itu informasi baru harus diinventarisir sehingga penulis dapat memiliki informasi yang segera dapat diangkat menjadi opini atau artikel.

Jangan lupa, informasi dari pakar dan media elektronik agar dicatat runtut sesuai urutan waktu yang disertai tanggal tayang atau tanggal acara itu berlangsung. Nama acara dicantumkan dalam catatan akan lebih lengkap dan lebih baik.

Mengapa harus mengumpulkan informasi baru ? Media masa hanya akan memuat tulisan yang mengandung hal baru baik informasinya, pandangan pencerahan, pendekatan, saran maupun solusinya. Topik yang dibahas pun sesuatu yang aktual, relevan dan menjadi persoalan di masyarakat. Pertimbangan inilah melandasi calon penulis hendaknya rajin mengumpulkan informasi yang baru.

Nah, apabila Anda menginginkan tulisannya diperhitungkan oleh penerbit , informasi  baru dalam tulisan Anda sangat diutamakan. Anda tidak akan menguasai informasi terbaru apabila  tidak mau rajin mengumpulkan informasi yang ada. Kasus ditolaknya tulisan tidak dimuat di media masa paling banyak disebabkan oleh hal  yang dibahas bukan hal baru

Kedua, Peka Melihat Keadaan

Melihat dapat diartikan memperhatikan. Peka melihat keadaan artinya mampu dan mau memperhatikan hal-hal kecil hingga besar keadaan lingkungan baik melalui sumber bacaan, kata nara sumber maupun secara  langsung lewat indera sendiri mengetahui kejadian di lingkungan sekitar.

Peka melihat keadaan merupakan sikap yang harus dimiliki oleh calon penulis ataupun penulis karya ilmiah yang sudah biasa menulis. Walaupun permasalahan yang dapat diangkat sebagai bahan tulisan itu berserakan  banyak sekali di sekitar kita akan tetapi apabila calon penulis  tidak peka melihatnya maka tulisan yang diharapkan itu pun tidak akan menjadi kenyataan.

Membaca berita dalam koran bagi calon penulis peka tentu tidak sekedar membaca kemudian hilang tanpa kesan. Bagi pembaca peka, isi berita itu dapat diangkat sebagai bahan tulisan yang segera dikaitkanhubungkan  dengan sumber pustaka dan secara jeli dianalisisnya  menjadi sebuah karya ilmiah yang pantas dipajang di media masa.

Oleh karena itu tangkaplah fenomena di sekitar Anda sebagai inspirasi bahan tulisan yang aktual. Fenomena yang ada di sekitar itu identik dengan kesempatan yang tak pernah datang dua kal

Ketiga, Buat Klipping Artikel Pendidikan

Bersamaan dengan melatih diri untuk peka menangkap keadaan sekitar sebaiknya Anda juga rajin untuk mengumpulkan / mengklipping tulisan orang lain yang bernuansa pendidikan. Ambillah artikel pendidikan  sekalipun dari bungkus tempe / bungkus kacang goreng ! Kumpulkan tulisan-tulisan itu hingga banyak maka  akan menjadi sumber referensi yang jelas dan akan menambah wawasan  Anda.

Setelah membaca kumpulan artikel yang ditulis banyak orang itu, Anda akan mendapatkan sesuatu yang bersinar dari artikel tersebut. Sinar yang menerangi pikiran dan hati Anda sehingga menunjukkan jalan lebar menuju kampung penulis cerdas. Sinar itu adalah : 1. motivasi menulis, 2. perbendaharaan bahasa media masa, 3. karakteristik penulis,4. urutan kronologis susunan tulisan, 5. referensi pengetahuan,6. mendapatkan idola model bentuk tulisan

Anda bisa meniru model tulisan orang lain, namun tak boleh menjadi plagiat yang merangkum tulisan-tulisan orang lain. Meniru model dapat diartikan meniru bentuk tulisan. Meniru urutan kronologi susunan tulisan dan meniru gaya tulisan orang lain agaknya tidak dilarang.

Dengan banyak membaca artikel orang lain Anda bisa meniru polanya walaupun makin lama Anda menemukan pola baru sebagai ciri khas bentuk karya tulisan Anda. Sebagai calon penulis, Anda berada selangkah lebih maju daripada teman yang mau menulis akan tetapi tidak bersedia mengklipping artikel orang lain. Percayalah, langkah ini  merupakan langkah jitu sebagai penulis karya ilmiah populer otodidak. Penulis buku ini membuktikan. Cobalah

Keempat, Mencari Tahu Langsung kepada Penulis

Ada pepatah ” Carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina ” mengajarkan kita agar  bersemangat, tidak mudah putus asa dalam meraih cita-cita. Carilah penulis yang tulisannya sering diterbitkan di media masa. Mintalah petunjuk kiat dan strategi menulis yang bisa lolos seleksi  redaktur media masa. Sering-seringlah berjumpa dengannya sehingga akrab sebagaimana teman karibnya.  Pepatah Jawa ” Cerak – cerak kebo gupak ”  yang berarti apabila berdekatan dengan teman maka akan terpengaruh sikap dan karakter teman akrab tersebut. Baik ataupun tidak baik sikap dan karakter teman itu akan kuat sekali mempengaruhi.

Apabila kita terpengaruh secara positif motivasi dalam menulis oleh teman maka sesungguhnya itulah yang kita cari. Pengaruh teman akrab lebih mempan daripada seribu nasihat nara sumber seminar. Percayalah

Berguru kepada teman akrab jauh lebih efektif daripada menimba pengetahuan dari Maha Guru yang jarang sekali bertemu. Tanamkan pradugamu yang baik bahwa penulis sejati akan selalu melayani teman akrab yang minta diajari  menulis seperti yang dia alami.

Penulis sejati, ikhlas hingga sanubari memberi ilmu  rahasia  menulis  yang dia miliki,  tanpa harus minta

ganti rugi. Penulis sejati memang kaya budi. Bertemanlah kepada penulis niscaya Anda akan  termotivasi untuk menulis.

Kelima, Memahami Karakteristik Media Masa

Karya tulis yang dimuat pada  sebuah koran belum tentu dapat dimuat di koran lain sekali pun mungkin dianggap berbobot. Mengapa ? Tolok ukur karya tulis yang bisa dimuat, setiap redaksi berbeda. Tingkat bobot tema, bahasa dan analisis setiap redaksi media masa terhadap sebuah karya tulis, berbeda.

Ada media masa yang tidak  berani memuat karya tulis dengan bahasa keras (menyinggung pemerintah) namun sebaliknya ada media masa yang senang memuat karya tulis bertaraf keras. Ada media masa yang tidak suka memuat karya tulis bernuansa agamis dan ada media masa yang senang dengan karya tulis yang bernuansa agamis. Demikian juga panjang pendek karya tulis yang bisa dimuat, setiap redaksi media masa mempunyai ketentuan yang berbeda. Dan masih banyak lagi hal-hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan ketentuan masing-masing redaksi media masa.

Oleh karena itu, sebelum Anda banyak mengalami kegagalan, pahami dulu karakteristik setiap redaksi yang akan Anda kirimi karya tulis Anda. Setelah Anda memahami pada gilirannya tinggal mengasah tata bahasa, mengolah kata untuk menyesuaikan ketentuan media masa dalam bentuk karya yang siap saji di meja pembaca.

Keenam Catat Alamat Redaksi Media Masa

Redaksi yang akan Anda kirimi karya tulis Anda hendaknya tidak terpatri pada satu media masa. Karya tulis  Anda yang tidak lolos pada salah satu media masa dapat dikirimkan lagi ke media lain setelah ditunggu kurang lebih 10 hari sejak tulisan Anda sampai di meja redaksi media masa dan ternyata  tidak dimuat. Untuk itulah alamat redakasi beberapa media masa harus ada di tangan Anda.

Di bawah ini disajikan alamat redaksi beberapa media masa baik koran , majalah, buletin maupun jurnal pendidikan.

Ketujuh, Rajin Baca Referensi

Membaca buku referensi adalah wajib bagi guru calon penulis ataupun yang sudah menjadi penulis. Tanpa mau membaca buku referensi niscaya tak akan bertambah wawasan maupun pengetahuan yang dimiliki. Referensi merupakan pendukung dan penguat  pendapat  Anda  yang tertuang dalam karya tulis Anda. Anda tak bisa berpendapat seenaknya tanpa ada dukungan fakta dan referensi.

Perlu diketahui, karya tulis Anda dinilai lemah oleh redaktur media masa apabila tidak didukung referensi terbaru.  Dan itu indikasi karya tulis Anda tak akan lolos dari uji redaktur media masa. Ujung- ujungnya karya tulis Anda tak akan dimuat dan hanya akan  dibuang di bak sampah penerbit.

Lebih lanjut apabila karya tulis Anda dapat dimuat pada media  yang Anda kirimi, belum tentu mendapat nilai dari Tim Penilai Pengembangan Profesi Guru. Karya tulis tersebut selanjutnya disebut sebagai obrolan  penulis yang tidak memenuhi syarat sebagai karya tulis ilmiah baku.

Perlu dipahami karya tulis dikategorikan sebagai karya tulis ilmiah yang memenuhi syarat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut ( Kastam Syamsi, 2006) , 1. Isi sajian berada pada kawasan pengetahuan keilmuan, 2. Penulisannya cermat, tepat, benar menggunakan sistematika umum dan jelas, 3. Tidak bersifat subjektif, tidak boleh emosional, mengungkapkan terkaan, prasangka, atau memuat pandangan-pandangan tanpa fakta dan rasional yang mantap dan 4. Didukung dan dikuatkan referensi yang jelas

Sebelum Anda menjadi penulis yang handal, langkah awal yang harus Anda lakukan adalah bersikap akrab dengan buku-buku referensi. Buku-buku itulah sebagai sumber pendorong motivasi, pengembang inspirasi dan pembela argumentasi.

Buku referensi merupakan gudang pengetahuan dan wawasan. Membaca buku referensi berarti membuka kunci gudang wawasan. Wawasan itu sangat diperlukan bagi guru calon penulis karya ilmiah populer ataupun yang sudah terbiasa menulis. Makin tinggi keinginan Anda menulis makin banyak wawasan yang perlu dimiliki.

Nah, jika Anda menginginkan banyak wawasan, maka harus banyak membaca buku referensi. Anda jangan terpaku hanya membaca satu buku referensi. Banyaknya buku referensi yang Anda baca berkorelasi positif terhadap keluasan wawasan yang Anda miliki. Keluasan wawasan Anda menentukan kualitas karya  tulis Anda. Kualitas karya tulis akan berdampak pada pemuatan dan pengakuan masyarakat. Pada gilirannya, kualitas karya tulis akan mempererat hubungan Anda dengan penerbit media masa. Keakraban inilah mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap kualitas nama Anda di media masa.

Oleh karenanya, Anda harus rajin membaca buku dari banyak buku referensi. Cara mendapatkan banyak buku referensi di antaranya dengan : 1. membeli buku-buku referensi di toko buku , 2. meminjam buku-buku referensi teman yang memilikinya, dan  3. membaca buku di perpustakaan.

Kedelapan, Consisten Mau Menulis

Konsisten mau menulis artinya taat atas ketekadan dirinya untuk menulis. Pendiriannya untuk menulis ajek, tidak berubah-ubah sekalipun 1,2,3 bahkan sampai 6 kali karya tulisnya tidak dimuat di media masa.

Konsisten merupakan landasan kekuatan pertahanan motivasi menulis dalam menghadapi rongrongan yang berasal dari kebosanan, kemalasan dan makin menggejalanya erosi motivasi.

Bersamaan menjaga kelestarian motivasi, konsistensi juga harus  dipertahankan. Kedua unsur inilah pada hakekatnya merupakan roh kegiatan penulisan karya ilmiah. Kedua unsur inilah merupakan pendorong terwujudnya karya tulis ilmiah. Guru-guru yang belum mau memulai menulis karya ilmiah itu pada umumnya lebih disebabkan oleh rendahnya motivasi dan konsisten menulis.

Kegagalan memang menyakitkan. Beberapa kali karya tulis yang dikirimkan ke media masa tidak diterbitkan  bisa jadi membuat si penulis patah semangat, putus asa dan stress hingga berhenti tidak mau menulis lagi. Patah semangat sendirian masih dirasakan belum memuaskan.  Ia segera berkoar kemana-mana  dengan kejengkelannya mengatakan,” Membuat karya tulis itu sulit. Karya tulis itu melelahkan. Media masa tidak adil. Media masa itu tidak fair ,” dan lain-lain. Semua perkataannya bernada kecewa dan meluapkan isi hatinya dengan mengumpat kesulitan karya tulis dan ketidakadilan redaktur media masa. Sikap seperti itulah yang disebut tidak konsisten.

Apabila Anda termasuk yang demikian , lekaslah mawas diri ! Sikap yang seperti itu bukan sifat penulis yang cerdas. Bangunlah semangat yang baru untuk membentuk artikel yang bisa memenuhi selera setiap penerbit sehingga nama Anda terpampang di halaman media masa. Cobalah,  artikel-artikel Anda yang tidak lolos uji redaktur suatu media masa agar diperbaiki untuk dikirimkan lagi ke media masa yang lain dengan memperhatikan berbagai komponen yang mendukungnya

Jagalah konsisten dan kemauan diri untuk menulis agar Anda benar-benar menjadi guru yang lincah, dan bergairah menulis. Selamat  !

DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar