Kamis, 08 Maret 2012

PENALARAN INDUKTIF

Penalaran induktif adalah proses berpikir untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus. Prosesnya disebut induksi.
Penalaran induktif dapat berbentuk generalisasi, analogi, atau hubungan sebab akibat. Generalisasi adalah proses berpikir berdasarkan hasil pengamatan atas sejumlah gejala dan fakta dengan sifat-sifat tertentu mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa itu. Analogi merupakan cara menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan terhadap sejumlah gejala khusus yang bersamaan. Hubungan sebab akibat ialah hubungan ketergantungan antara gejala-gejala yang mengikuti pola sebab akibat, akibat sebab, dan akibat-akibat.
Contohnya dalam menggunakan preposisi spesifik seperti:
Es ini dingin. (atau: Semua es yang pernah kusentuh dingin.)
Bola biliar bergerak ketika didorong tongkat. (atau: Dari seratus bola biliar yang didorong tongkat, semuanya bergerak.)
Untuk membedakan preposisi umum seperti:
Semua es dingin.
Semua bola biliar bergerak ketika didorong tongkat.
Induksi kuat:
Semua burung gagak yang kulihat berwarna hitam.
Induksi lemah:
Aku selalu menggantung gambar dengan paku.
Banyak denda mengebut diberikan pada remaja.

Penalaran induktif dimulai dengan pengamatan khusus yang diyakini sebagai model yang menunjukkan suatu kebenaran atau prinsip yang dianggap dapat berlaku secara umum.
Perbedaan dari penalaran deduktif dan induktif adalah, penalaran deduktif memberlakukan prinsip-prinsip umum untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang spesifik, sementara penalaran induktif menguji informasi yang spesifik, yang mungkin berupa banyak potongan informasi yang spesifik, untuk menarik suatu kesimpulan umum.
Ada pun macam-macam dari penalaran induksi, yaitu:
Generalisasi
Proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena atau peristiwa individual (khusus) untuk menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang mencakup semua fenomena tersebut. Generalisasi dapat diartikan juga sebagai pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar peristiwa. Generalisasi dibuktikan dengan fakta, contoh data statistic dan lain-lain.
Contoh dari generalisasi:
Pemakaian bahasa Indonesia diseluruh Indonesia baik dari generasi yang dahulu maupun generasi yang sekarang blum dapat diseragamkan. Perbedaan dapat dilihat mulai dari struktur kalimat maupun dalam hal pengucapan. Contoh lainnya dalam penyampaina yang ada pada surat kabar, pembawa acara radio maupun televisi masih belum dapat dikatakan benar karena sudah dapat bahasa pergaulan yang lebih umum untuk disampaikan dari pada bahasa Indonesia yang baik dan benar itu sendiri. Fakta-fakta yang ada ini masih menunjukkan bahwa pengajaran bahasa Indonesia perlu ditinggatkan lebih banyak lagi agar dapat tercapainya keselarasan dalam berbahasa.
Macam-macam generalisasi:
Generalisasi sempurna (generalisasi dengan loncatan)
fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena atau peristiwa yang ada akan tetapi seluruh fenomena yang ada dapat menjadi dasar penyimpulan.
Contoh : Hampir semua anak kelas 3 mengambil bagian dalam mengisi acara untuk perpisahan akhir tahun nanti.
Generalisasi tidak sempurna (generalisasi tanpa loncatan)
fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan dan sebagian fenomena dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan yang berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki.
Contoh : Semua anak-anak menyukai makanan yang manis-manis.
 Analogi
Proses penalaran yang bertolak dari dua peristiwa khusus yang mirip satu sama lain dengan cara membandingkan peristiwa yang ada dengan peristiwa sebelumnya, kemudian menyimpulkan bahwa apa yang berlaku untuk satu hal berlaku juga untuk hal lain. Dengan kata lain penalaran analogi dapat diartikan sebagai proses penyimpulan berdasarkan fakta atau kesamaan atau proses membandingkan dari dua peristiwa (hal) yang berlainan berdasarkan kesamaannya kemudian ditariklah kesimpulan dari persamaannya tersebut.
Contoh :
Untuk menjadi seorang penari professional atau ternama dibutuhkan latihan yang rajin dan ulet. Demikiannya dengan seorang atlit untuk dapat menjadi atlit professional dan berprestasi dibutuhkan latihan yang rajin dan ulet. Oleh karena itu untuk menjadi seorang penari maupun seorang atlit diperlukan latihan yang rajin dan ulet.
 http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran


Senin, 05 Maret 2012

PENALARAN

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis(antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).
Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
Metode dalam menalar
Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif.
[sunting]Metode induktif
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif. Contoh:
Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai.
Jika dipanaskan, platina memuai.
∴ Jika dipanaskan, logam memuai.
Jika ada udara, manusia akan hidup.
Jika ada udara, hewan akan hidup.
Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
∴ Jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.
Metode penalaran induktif adalah adalah suatu penalaran yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum.

MACAM-MACAM PENALARAN


PENALARAN
I.I Pengertian Penalaran
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Penalaran merupakan proses berpikir menurut alur kerangka berpikir tertentu, merupakan kunci pembuka gerbang ke arah kemajuan seperti apa yang dicapai oleh manusia sekarang ini. 

I.I Syarat – syarat Kebenaran dalam Penalaran
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
a. Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
b. Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.

II. RUMUSAN MASALAH
Penalaran memiliki dua jenis metode yang sering kita temukan, yakni metode Induktif dan metode Deduktif.
1. Penalaran Induktif

Penalaran induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut induksi. Penalaran induktif mungkin merupakan generalisasi, analogi, atau hubungan sebab akibat. Generalisasi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu mengenai sernua atau sebagian dari gejala serupa itu. Di dalam analogi kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala ditarik berdasarkan pengamatan terhadap sejurnlah gejala khusus yang bersamaan. Hubungan sebab akibat ialah hubungan ketergantungan antara gejala-gejala yang mengikuti pola sebab akibat, akibat-sebab, dan akibat-akibat.

2. Penalaran Deduktif

Deduksi dimulai dengan suatu premis yaitu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan. Kesimpulannya merupakan implikasi pernyataan dasar itu. Artinya apa yang dikemukakan di dalam kesimpulan secara tersirat telah ada di dalam pernyataan itu.
Jadi sebenarnya proses deduksi tidak menghasilkan suatu pengetahuan yang baru, melainkan pernyataan kesimpulan yang konsisten dengan pernyataan dasarnya.


III. PEMBAHASAN
Pembahasan penalaran Induktif dan penalaran Deduktif sebagai berikut :
1. Penalaran Induktif
Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.
Di dalam penalaran induktif terdapat tiga bentuk penalaran induktif, yaitu generalisasi, analogi dan hubungan kausal. Jenis-jenis penalaran induktif antara lain :
a. Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum.
Contohnya :
1. Chelsea Olivia adalah bintang sinetron, dan ia berparas cantik.
2. Nia Ramadhani adalah bintang sinetron, dan ia berparas cantik.
Generalisasi: Semua bintang sinetron berparas cantik.
Pernyataan “semua bintang sinetron berparas cantik” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya. Contoh kesalahannya: Omas juga bintang iklan, tetapi tidak berparas cantik.
Macam-macam generalisasi :
a.1 Generalisasi sempurna adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki. Contoh: Sensus penduduk.
a.2 Generalisasi tidak sempurna adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki. Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantaloon. Prosedur pengujian generalisasi tidak sempurna. Generalisasi yang tidak sempurna juga dapat menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur pengujian yang benar. Prosedur pengujian atas generalisasi tersebut adalah:
- Jumlah sampel yang diteliti terwakili.
- Sampel harus bervariasi.
- Mempertimbangkan hal-hal yang menyimpang dari fenomena umum/ tidak umum.
b. Analogi

Analogi merupakan cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama. Analogi mempunyai 4 fungsi, antara lain :
- Membandingkan beberapa orang yang memiliki sifat kesamaan
- Meramalkan kesaman
- Menyingkapkan kekeliruan
- klasifikasi

Contoh analogi :

Demikian pula dengan manusia yang tidak berilmu dan tidak berperasaan, ia akan sombong dan garang. Oleh karena itu, kita sebagai manusia apabila diberi kepandaian dan kelebihan, bersikaplah seperti padi yang selalu merunduk.

c. Hubungan Kausal

Penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Macam hubungan kausal :
1. Sebab- akibat : Hujan turun di daerah itu mengakibatkan timbulnya banjir.
2. Akibat – Sebab : Andika tidak lulus dalam ujian kali ini disebabkan dia tidak belajar dengan baik.
3. Akibat – Akibat : Ibu mendapatkan jalanan di depan rumah becek, sehingga ibu beranggapan jemuran di rumah basah.
Contoh Kausal : Kemarau tahun ini cukup panjang. Sebelumnya, pohon-pohon di hutan sebagi penyerap air banyak yang ditebang. Di samping itu, irigasi di desa ini tidak lancar. Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan para petani dalam menggarap lahan pertaniannya. Oleh karena itu, tidak mengherankan panen di desa ini selalu gagal.

2. Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.
Contoh : Sebuah sistem generalisasi.
Laptop adalah barang eletronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperasi, DVD Player adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperasi,
Generalisasi : semua barang elektronik membutuhkan daya listrik untuk beroperasi.

Deduksi ialah proses pemikiran yang berpijak pada pengetahuan yang lebih umum untuk menyimpulkan pengetahuan yang lebih khusus. Bentuk standar dari penalaran deduktif adalah silogisme, yaitu proses penalaran di mana dari dua proposisi (sebagai premis) ditarik suatu proposisi baru (berupa konklusi)

Ada dua bentuk silogisme dalam penalaran Deduktif, yakni :
a. Silogisme kategoris: terdiri dari proposisi-proposisi kategoris.
b. Silogisme hipotesis: salah satu proposisinya berupa proposisi hipotesis.
Misalnya:
Premis 1 : Bila hujan, maka jalanan basah
Premis 2 : Sekarang hujan
Konklusi : Maka jalanan basah
Bandingkan dengan jalan pikiran berikut:
Premis 1 : Bila hujan, maka jalanan basah
Premis 2 : Sekarang jalanan basah
Konklusi : Maka hujan.
Bentuk Silogisme Menyimpang
Dalam praktek penalaran tidak semua silogisme menggunakan bentuk standar, bahkan lebih banyak menggunakan bentuk yang menyimpang. Bentuk penyimpangan ini ada bermacam-macam. Dalam logika, bentuk-bentuk menyimpang itu harus dikembalikan dalam bentuk standar.
Contoh : “Mereka yang akan dipecat semuanya adalah orang yang bekerja tidak disiplin. Kamu kan bekerja penuh disiplin. Tak usah takut akan dipecat”.
Bentuk standar :“Semua orang yang bekerja disiplin bukanlah orang yang akan dipecat. Kamu adalah orang yang bekerja disiplin.Kamu bukanlah orang yang akan dipecat”.



V. DAFTAR PUSRAKA
1.  www.penalaran-unm.org
   id.wikipedia.org
2. http://nopi-dayat.blogspot.com/2010/03/penalaran-deduktif.html

Rabu, 11 Januari 2012

KONSUMSI DAN PERILAKU KONSUMEN

Konsumsi adalah kegiatan mengurangi atau menghabiskan nilai guna barang dan jasa. Kecenderungan mengkonsumsi disebut dengan pola konsumsi.


Faktor-faktor yang mempengaruhi Konsumsi :
ØFaktor Internal

1. Pendapatan

2. Motivasi

3. Sikap dan kepribadian

4. Selera


ØFaktor eksternal

1. Kebudayaan

2. Status sosial

3. Harga barang


Perilaku Konsumsi dibagi menjadi dua :
Ø Perilaku Konsumsi Rasional

perilaku konsumen yang didasari atas pertimbangan

Rasional dalam mengonsumsi suatu produk.

Ø Perilaku konsumsi tidak rasional

dikatakan tidak rasional bila seorang konsumen

memutuskan membeli barang tanpa pertimbangan yang baik.


ØPerilaku konsumen adalah proses dan aktifitas ketika seseorang berhubungan
dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN :
ØFaktor Sosial
Ø Faktor Personal
Ø Faktor Psikologi
Ø Faktor Kebudayaan


ILMU PERILAKU KONSUMEN :

Ilmu perilaku konsumen dapat digunakan dalam :

Ø Strategi Pemasaran
ØPengaturan Kebijakan Pemasaran
ØPemasaran Untuk Masyaraka
Ø Informasi Individualis




SUMBER :

Ø Adji, Wahyu. 2007. Ekonomi. Jakarta : Erlangga
Øhttp://softskillperilakukonsumen.blogspot.com/2010/10/pengertian-perilaku konsumen.html
Øhttp://jurnalsdm.blogspot.com/2009/06/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html

Selasa, 06 Desember 2011

Tipe golongan konsumen roda dua negeri

Yang namanya konsumen otomotif khususnya roda dua di Endonesia itu unik-unik lho, saking uniknya kapasitas otak saya yang gedenya ndak lebih besar dari pada upil pun sanggup mengklasifikasikan dengan tanpa survey, tidak bertanggung jawab, semena-mena, bahkan asal njeplak. Mungkin situ juga tahu kan keunikan dari mereka?

Untuk itu, yuk kita bahas per golongan dari tipe-tipe konsumen di Endonesia ini, siapa tahu itu juga salah satu dari anda.




Golongan konsumen miskin. Mereka ini kalo beli motor yang penting murah, ndak melek merk asal ada roda, diisi bensin, bisa jalan, ya udah, ndak neko-neko. Persetan itu motor yang ngakunya produksi dalam negeri walo dibeli belum ada setahun udah kemlotak kayak traktor dan kebulnya ngalahin asap motor 2 tak meski berlebel 4 tak, ya ndak pa-pa. Maka ndak heran kalo golongan konsumen ini adalah sasaran empuk penjual MotKas bangsat yang tega nipu luar dalam demi sebuah keuntungan yang ndak manusiawi.
Istilah kata kalo beli makanan yang penting bisa dimakan, ndak peduli itu udah banyak tercampur bahan kimia berbahaya ato agak basi pun, yang penting mbikin perut kenyang, Ya udah, Beli!.

Golongan OKB ato Orang Kaya Baru. Mereka tidak sungkan mengeluarkan uang lebih demi sebuah kendaraan yang dianggapnya mampu menaikkan harga diri. Maklumlah, dendam masa lalu ketika menjadi golongan miskin akan diluapkan disini, terlebih lagi faktor ingin memperbaiki bahkan menaikkan kredibilitas level gaya hidup adalah tujuan utamanya. Maka tidak heran, merk belum menjadi hal utama bagi mereka, yang penting punya fitur diatas rata-rata produk low end, peduli setan jika fungsionalitas adalah nomor sekian.
Jika diibaratkan beli makanan, harga mahal bukan masalah walopun punya efek ndak kalah bahaya dengan makanan basi, asal terlihat berkelas dan mahal ya bungkus.

Golongan konsumen lama kaya. Kalo mereka ini hampir sama dengan golongan OKB, membeli kendaraan mahal bukan masalah. Gaya hidup dan gengsi sudah bukan tujuan mereka buat mengambil suatu produk meski itu termasuk kelevel high end sekalipun. Fungsionalitas, kualitas, maupun kredibilitas merk sudah dianggap hal penting yang tidak bisa ditawar. Mereka tidak mempermasalahkan banyaknya uang yang dikeluarkan atas suatu produk, asal itu pantas dan sesuai dengan keinginannya.
Jika disamakan orang beli makanan, golongan ini termasuk yang peduli akan kesehatan. Mereka akan selektif terhadap apa yang ditelan, melakukan checking tabel komposisi adalah hal yang utama. Merepotkan memang, tapi jika sudah cocok, harga mahalpun bukan masalah baginya.

***

http://dwinugros.wordpress.com/2011/12/05/tipe-golongan-konsumen-roda-dua-negeri-ini-menurut-kapasitas-otak-saya-yang-ndak-lebih-besar-dari-upil/

PULUHAN ALAT UKUR MERUGIKAN KONSUMEN

Puluhan juta alat ukur yang digunakan dalam transaksi perdagangan belum terjamin ketepatannya. Ketidaktepatan tersebut merugikan kepentingan konsumen dan penjual. Pemerintah daerah diimbau memperbanyak tenaga penera ulang dan melakukan pengawasan secara berkala terhadap semua alat ukur perdagangan.

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi saat mengukuhkan Kota Singkawang sebagai kota pertama tertib ukur, Selasa (6/12/2011).

”Persoalan ukuran timbangan, takaran, dan peralatan lainnya (UTTP) selama ini masih banyak disepelekan. Padahal alat-alat tersebut sangat penting bagi kepuasan pembeli dan penjual dalam transaksi perdagangan,” katanya.

Bayu mengatakan, jaminan ketepatan ukuran adalah bentuk kepercayaan dalam perdagangan. Kementerian Perdagangan menyerahkan urusan metrologi kepada pemerintah daerah masing-masing. Oleh karena itu, setiap pemerintah daerah harus memiliki tenaga penera ulang. Saat ini, jumlah penera ulang di seluruh Indonesia tercatat 950 orang, sementara peralatan yang harus ditera ulang mencapai 63 juta. Dengan demikian, kita kekurangan tenaga penera berkisar 3.000 orang.

Dia menambahkan, perhatian terhadap metrologi akan memperkecil gangguan perdagangan. Idealnya, setiap tahun sekali dilakukan tera ulang terhadap semua peralatan ukur.

Singkawang ditetapkan sebagai daerah pertama tertib ukur karena telah mengidentifikasi semua alat ukur. Peralatan tersebut ditera ulang dan dipastikan ketepatannya. Tercatat ada 51.973 UTTP yang terdiri dari 12.125 meteran air, 36.992 meteran kWh, 28 meteran pompa ukur BBM, 2.226 timbangan, 652 takaran, dan 33 peralatan lainnya.
http://revo4me.wordpress.com/2011/12/07/puluhan-alat-ukur-banyak-merugikan-konsumen/

Road to Top Brand: Kisah Cinta Konsumen dan Merek Asli Indonesia

Ketika disebutkan kategori dari suatu produk mobil, elektronik, komputer, alat telekomunikasi dan tas, merek apakah yang pertama kali muncul dibenak Anda? Spektakuer! Saya baru saja menebak bahwa 3 dari 5 merek yang baru saja Anda pikirkan adalah merek asing! Dan besar kemungkinan, merek-merek itulah yang sedang Anda pakai saat ini atau yang Anda inginkan di masa mendatang!

Tak adakah produk unggulan lokal yang mampu bersaing dengan produk asing? Tentunya ada. Namun tanpa dilabeli merek, maka tak ada identitas dan jaminan atas mutu dari suatu produk lokal tersebut.

Pemegang merek-merek asing tampaknya sangat sadar bahwa membuat merek menjadi top of mine awareness merupakan bagian dari strategi pemasaran yang tak dapat diabaikan. Mereka percaya bahwa merek dapat menjadi motif pendorong konsumen memilih suatu produk. Berbekal merek yang kuat, produk-produk asing dengan mudah menguasai pangsa pasar dan menyingkirkan produk pesaing dari benak konsumen.

Demikianlah merek-merek lokal menjadi semakin kerdil dan terombang-ambing dalam ketidakpastian, sebelum akhirnya menghilang dan meninggalkan luka baru di dunia kewirausahaan Indonesia.

Bagaimana membuat merek dicintai konsumen?

Berbicara tentang merek tak ubahnya berbicara tentang cinta. Apa yang dibutuhkan oleh suatu produk agar mereka dicintai? Dari berbagai cara orang jatuh cinta dan kemudian menjalin hubungan, ada satu hal yang sangat pasti. Pada umumnya, orang jatuh cinta pada sesuatu yang dikenalnya. Inilah syarat utama untuk membuat merek menjadi top brand. Tak kenal maka tak cinta. Kemampuan dalam menciptakan brand awareness inilah yang mutlak diperlukan pemasar. Untuk itu, perlu dilakukan pemetaan dan kemudian memperkenalkan merek pada konsumen melalui media dan aktivitas promosi yang dianggap paling tepat.

Sebelum berbicara lebih lanjut tentang kisah cinta antara merek lokal dan konsumen Indonesia yang masih kurang harmonis, ada baiknya meluangkan waktu untuk mencermati penampilan visual merek. Nama merek hendaknya mudah disebutkan dan diingat oleh konsumen dan jika pemasaran juga dilakukan melalui media online (website), maka perlu dipertimbangkan juga untuk mencari nama yang relatif sama dengan nama domain yang masih tersedia. Demikian juga dengan logo atau lambang. Hendaknya logo atau lambang divisualisasikan secara jelas agar mudah membekas di benak konsumen.

Merek tidak hanya harus memiliki daya pembeda dengan merek-merek lain namun juga syarat dengan nilai dan tujuan perusahaan. Suatu merek kadang kala tidak hanya mewakili atribut dan nilai suatu produk namun juga mewakili kepribadian dan budaya pemasarnya, tempat merek tersebut berasal, dan bahkan mencerminkan kepribadian dari konsumen. Untuk itu, penampilan merek dan keserasian antara merek dengan konsumen perlu diperhatikan.

Kisah percintaan merek dengan konsumen melibatkan konsep manajemen kualitas terpadu dan pemasaran yang terintegrasi, karena merek bukan hanya apa yang tercetak pada produk atau kemasannya, tetapi termasuk juga apa yang ada di benak konsumen dan bagaimana konsumen mengasosiasikannya. Sebagai simbol yang diasosiasikan dengan produk dan menimbulkan arti psikologis, merek merupakan identitas dan jaminan atas mutu dari suatu produk. Untuk itu, kejelasan dan kesesuaian identitas dan jaminan atas mutu dari suatu produk dengan keinginan pasar sasaran menjadi syarat mutlak lainnya yang perlu diperhatikan dalam membentuk persepsi konsumen.

Kepada siapa merek tersebut akan dijodohkan adalah pertanyaan awal lainnya yang harus dijawab sebelum melangkah lebih jauh. Keterbatasan yang berhubungan dengan dinamika bisnis itu sendiri, mengharuskan pemasar untuk melakukan pemilahan (segmentasi) dan pemilihan (posisioning). Lebih lanjut, kepada segmentasi dan ceruk pasar terpilihlah kemudian merek ini dipromosikan agar dikenal, digunakan dan dicintai.

Persepsi konsumen terhadap merek adalah umpan balik dari kinerja kualitas suatu produk yang dirasakan konsumen. Proses pembangunan loyalitas merek berhubungan erat dengan faktor-faktor yang menentukan kepuasan konsumen, meliputi: kualitas produk, kualitas pelayanan, emosional dan harga. Manfaat-manfaat yang terkandung pada suatu merek inilah yang kemudian menjadi motif utama konsumen membeli suatu produk. Ada hubungan erat antara merek yang kuat dengan produk yang berkualitas.

Keputusan-keputusan yang berhubungan dengan faktor pemuas keinginan konsumen juga berhubungan erat dengan pasar sasaran. Pemasar dalam hal ini membuat keputusan untuk memilih pangsa pasar mana dan manfaat apa yang ditawarkan pada konsumen, yang selanjutnya akan membentuk persepsi konsumen terhadap merek. Give more to get more!, memberikan kualitas terbaik untuk konsumen, baik secara emosional maupun rasional adalah kunci kesuksesannya.

Promosi produk kepada konsumen seyogyanya adalah upaya untuk memberitahukan atau menawarkan suatu produk yang dapat memenuhi dan bahkan melampaui keinginan konsumen. Ada berbagai cara untuk membuat merek menjadi top brand, mulai dari cara yang sangat mahal sampai dengan cara yang paling tidak lazim, melalui promosi di media, event, WOM dan sebagainya.

Untuk meledakkan merek, pemasar dituntut memiliki kemampuan dalam memberikan experience yang unik kepada konsumen dan kemampuan mengikat konsumen melalui loyalty program. Konsumen ingin dimanja, diperhatikan dengan hadiah-hadiah kecil. Pemasar merek lokal masih melihat aktivitas promosi tersebut sebagai pengeluaran biaya yang sia-sia. Pemikiran tersebut tidaklah benar, namun tidak sepenuhnya salah. Pemborosan biaya promosi ini sebenarnya bisa dihindari jika pemasar memiliki konsep pemasaran yang terintegrasi.

Konsekuensi dari menjadi merek top of mine awareness adalah investasi, baik biaya maupun waktu. Pada umumnya, membutuhkan waktu dan investasi yang tidak sedikit, meskipun ada beberapa merek melejit dalam waktu singkat (instants brand). Meledakkan brand bukanlah hal yang sulit namun juga tidak gampang.

Ada banyak faktor yang berkaitan dengan proses branding, baik internal maupun eksternal– regulasi yang kurang memihak, perjanjian dagang, kebijakan ekspor-impor, investasi, ketersedian sarana dan prasarana, SDM, momentum, inovasi, daya beli dan berbagai kendala lainnya.

Terlepas dari kendala-kendala yang sebenarnya juga dihadapai oleh pemegang merek-merek asing, Penulis melihat adanya peluang besar di masa mendatang bagi merek lokal indonesia untuk mengukuhkan diri sebagai top brand. Keberhasilan pemasaran dalam membuat brand menjadikan top brand akan mendatangkan hasil yang sepadan dengan investasi yang telah dikeluarkan. Bukankah cinta butuh pengorbanan?

Ide-ide unik apa kiranya yang dapat membuat merek asli Indonesia menjadi Top Brand?

Mengasosiasikan produk dengan kebhinekaan Indonesia adalah salah satu caranya. Keragaman suku, bahasa, kuliner, adat-istiadat, seni dan budaya merupakan sumber inspirasi dan keunggulan unik yang dapat menghantarkan merek asli Indonesia menjadi Top Brand.

Dalam kaitannya dengan kualitas produk, tampilan produk yang bernuansakan kekayaan budaya Indonesia merupakan hal yang unik dan menarik. Visualisasi kekayaan budaya tersebut dikemas sedemikian rupa untuk membangkitkan emosi dan membentuk persepsi positif terhadap kualitas merek. Aplikasi dari ide ini dapat diwujudkan pada kemasan atau bahkan produk itu sendiri, sebagai cerminan terhadap kepribadian konsumen yang kaya akan nilai-nilai sejarah.

Dalam kontek promosi, merupakan suatu hal yang unik untuk menampilkan keindahan pariwisata dalam sebuah iklan TV ataupun menampilkan pakaian adat daerah pada suatu event promosi, sebagai cerminan terhadap kepribadian konsumen yang kaya akan nilai-nilai budaya.

Mengakomodir keterlibatan konsumen dan melakukan edukasi kualitas kepada konsumen adalah cara unik lainnya yang dapat ditempuh untuk membangun hubungan yang harmonis antara merek dengan konsumen. Hal ini bisa dilakukan dengan mensponsori talenta lokal dan kegiatan sosial di berbagai bidang yang relevan dari satu daerah ke daerah lain. Secara langsung maupun tidak langsung, aktivitas tersebut akan mengukuhkan keberadaan merek dan brand ambasador, serta menciptakan keharmonisan diantara keduanya.

Sebagai contoh, menginisiasi sebuah media berita lokal yang sekaligus berfungsi sebagai media promosi merek. Lainnya adalah menghibahkan produk sebagai modal bagi calon wirausaha lokal potensial. Keberhasilan program hibah tersebut akan berdampak pada perluasan jaringan distribusi merek dan kepuasan konsumen.

Merek adalah manifestasi dari nilai dan keunggulan suatu produk yang menumbuhkan benih-benih cinta di hati konsumen. Ibarat sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta, hubungan merek lokal dengan konsumen mestinya saling menguatkan. Keserasian antara merek dan konsumennya lebih lanjut dapat dilihat melalui apresiasi dan ekpresi konsumen terhadap merek dan sebaliknya. Ingin dicintai? Puaskan pasangan Anda!

http://sme.marketing.co.id/2011/12/06/a-road-to-top-brand-kisah-cinta-konsumen-dan-merek-asli-indonesia/